Rabu, 11 Februari 2015




شُرُوْطُ قَبُوْلِ الشَّهَادَتَيْنِ
Syarat-syarat Diterimanya Syahadatain
Pertemuan 6

Kunci Sorga

      Dalam atsar disebutkan
قِيلَ لِوَهْبِ بْنِ مُنَبِّهٍ أَلَيْسَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مِفْتَاحُ الْجَنَّةِ قَالَ بَلَى
Ditanyakan kepada Wahab bin Munabbih, "Bukankah laa ilaaha illallah itu merupakan kunci surga?" Wahab menjawab, "Benar,”

Syahadat yang Memenuhi Syarat
      Syahadat yang memenuhi syarat itu seperti kunci yang punya gigi
      Apabila satu gigi kunci patah, maka kunci tidak dapat digunakan
      Begitu pun syarat syahadatain, harus terpenuhi semuanya, tidak boleh ada yang rusak



SYARAT PERTAMA: ILMU YANG MENIADAKAN KEBODOHAN (اَلْعِلْمُ اَلْمُنَافِيْ لِلْجَهْلِ)
      Seseorang yang bersyahadat harus memiliki ilmu tentang syahadat yang diucapkannya
      Orang yang bersyahadat tanpa mengetahui makna/kandungan syahadat tidak diterima
      3:18 bahwa yang diakui syahadat (persaksian)-nya hanya tiga pihak: Allah, malaikat, dan orang-orang yang berilmu
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Syahadat Orang yang Berilmu
      Syahadat orang yang berilmu disejajarkan dengan syahadatnya Allah dan malaikat
      Ditempatkannya syahadat orang yang berilmu setelah syahadatnya malaikat merupakan pujian dari Allah
     Syahadatnya mantap sekali
     Paling dekat dengan Allah
Bukti: JIHAD
      Jika kalbu telah merasakan lezatnya iman dan kegandrungan kepadanya serta telah mengakar, niscaya akan mendorong untuk mewujudkan kebenaran itu di luar kalbu
      Kalau realitas di luar kalbu bertentangan dengan iman, maka ia akan berjihad dengan harta dan jiwanya
      JIHAD ada dua komponen
     Sungguh-sungguh (جِدِّيَّةٌ)
     Terus-menerus (إِسْتِمَرَارِيَّةٌ)

Inilah Iman yang Benar
      أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ (mereka itulah orang-orang yang benar)
     إِنَّهُمْ مُؤْمِنُوْنَ (merekalah yang disebut mu’min)
     Bukan seperti  sebagian orang badui (49:14) yang belum beragama secara baik, masih perkataan lahiriahnya saja

Oleh-oleh Isra Mi’raj

وَأُعْطِيَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم ثَلاَثًا:
 أعْطِيَ الصلوات الخمس،
وأعْطِي خواتيمَ سورة البقرة،
وغُفِرَ لِمَنْ لَمْ يُشْرِكْ بِاللهِ مِنْ أُمَّتِهِ شيئًا المُقْحَماتُ
Diberikan kepada Rasulullah SAW (saat Isra Mi’raj) tiga hal: diberikan shalat lima waktu, diberikan akhir surat al-Baqarah, dan diampuni siapa saja yang tidak menyekutukan Allah dengan apapun (HR Muslim)

CINTA YANG MENGHILANGKAN KEMARAHAN DAN KEBENCIAN
      Orang yang bersyahadat harus menghasilkan cinta yang sempurna kepada Allah, Rasul dan jihad
      2:165 وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ  (Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah)
      9:24 cinta kepada Allah, Rasul dan jihad di atas segalanya (bapak, anak, istri, kaum keluarga, harta, perniagaan, dan rumah tempat tinggal)




Iman dan Amal

      Allah SWT selalu mengaitkan iman dengan amal shalih
      Orang munafik sukanya pasif (duduk) dan meninggalkan jihad (9:83) dengan 1001 alasan:
     Merasa berat (9:38) اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الأرْضِ
     Ridho kepada kehidupan dunia (9:38) أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا
     Cenderung kepada dunia (7:176) أَخْلَدَ إِلَى الأرْضِ
     Mengikuti hawa nafsu (7:176) وَاتَّبَعَ هَوَاهُ
     Keuntungannya masih lama (9:42) عَرَضًا قَرِيبًا
     Jaraknya jauh (9:42) وَسَفَرًا قَاصِدًا
     Hawanya panas (9:81) لا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ
Kesimpulan
      Agar syahadat kita diterima maka harus didukung oleh ilmu, keyakinan, keikhlasan, ketulusan, kecintaan, penerimaan, dan pelaksanaan
      Kebodohan, keraguan, syirik, dusta, benci, menolak, dan pasif adalah hal-hal yang membuat syahadat tidak diterima

اَلرِّضَى
Kerelaan
Yang Dikehendaki Allah

      Yang dikehendaki Allah ada 3 macam
  1. Yang dikehendaki Allah TERHADAP DIRI KITA (مَا أَرَادَهُ اللهُ بِنَا)
  2. Yang dikehendaki Allah TERHADAP ALAM SEMESTA (مَا أَرَادَهُ اللهُ بِالْكَوْنِ)
  3. Yang dikehendaki Allah DARI DIRI KITA (مَا أَرَادَهُ اللهُ مِنَّا)

Syukur dan Sabar

      Apapun takdir yang menimpa kita à harus ridho
      Realisasi ridho menerima takdir
     Takdir baik à syukur
     Takdir buruk à sabar
      Keduanya adalah sifat mu’min yang mengagumkan
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Menakjubkan perkara orang beriman sebab segala keadaannya baik dan tidak mungkin terjadi yang demikian melainkan bagi seorang mu’min: apabila mendapatkan kemudahan bersyukur maka itu baik baginya, dan apabila ditimpa kesusahan bersabar maka itu baik baginya (HR. Muslim)

Manisnya Iman

      Keridhoan akan musibah yang menimpa kita merupakan jalan untuk merasakan manisnya iman
     Kita tidak menyandarkan musibah pada kesalahan kita
     Kesalahan kita pun tidak berakibat musibah
      Rasulullah SAW bersabda
لاَ يَجِدُ عَبْدٌ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ حَتىَّ يَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ ، وَأَنَّ مَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَهُ
“Tidaklah seorang hamba merasakan manisnya keimanan sehingga dia menyadari bahwa apa yang akan menimpanya bukan karena kesalahannya dan apa kesalahannya tidak menyebabkan ia tertimpa (musibah).”
(HR Ibnu Abi Ashim, hadits sahih dengan sanad yang baik, termaktub dalam silisilah hadits sahih karya Imam Albani)

Doa dan Takdir

      Sering ada pertanyaan: apa perlunya kita berdoa sementara qadha-qadar sudah tertulis?
      Hal yang mendasar: DOA adalah ibadah, bahkan otaknya ibadah (اَلدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ), karena diperintahkan oleh Allah (40:60)
      Kedua: doa dan usaha tidak pernah berpisah! Sedangkan hasil, itu hak Allah, kita diperintahkan untuk TAWAKKAL kepada Allah saja
      Adapun tentang doa dan pengabulannya, perhatikan uraian selanjutnya
Doa
  1. Ada yang langsung dikabulkan (CASH)
     Misalnya minta lulus, ternyata lulus
  1. Ada yang ditangguhkan beberapa lama
     Hikmah: saat dikabulkan, ni’matnya lebih terasa atau tepat pada waktunya
  1. Ada yang diganti dengan menghindarkan dari bencana
     Minta rizki, lalu dikabulkan dapat Rp 1 juta; tapi dapat musibah yang biayanya 1 juta juga
     Mana yang dipilih? Terhindar dari musibah itu atau dapat rizki tapi dapat musibah?
     Kita tidak tahu mana yang baik buat kita, tapi Allah lebih tahu (2:216)
  1. Dibayar di akhirat

تَحْقِيْقُ مَعْنَى الشَّهَادَتَيْنِ
Realisasi Makna Syahadatain (1)

Hubungan Mu’min dan Allah

      Setelah seseorang bersyahadat maka hubungan dirinya dengan Allah SWT menjadi kuat
      Dirinya terikat dengan hubungan ini dengan ikatan yang sangat kuat yang tidak akan terputus (2:256)
فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا
maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus
      Ada tiga hubungan yang harus dijaga:
     Hubungan cinta
     Hubungan perniagaan
     Hubungan kerja





Jihad = Amal Terbaik

Ustman ra berpidato di atas mimbar,
      “Sesungguhnya aku masih menyimpan sebuah hadits yang pernah kudengar dari Rasulullah SAW, karena aku khawatir kalian akan meninggalkan aku.
      Maka kini aku akan menyampaikannya, agar setiap orang menentukan pilihannya sendiri-sendiri, mana yang terbaik baginya.
      Aku mendengar beliau bersabda, ‘Berjaga selama sehari di jalan Allah lebih baik daripada ibadah seribu hari pada selainnya’.” (HR. Ahmad)

Jihad Total
      Medan jihad sangat banyak, meskipun yang tertinggi adalah jihad di peperangan (jihad qital)
      Jihad = sungguh-sungguh à mengeluarkan segala upaya, pikiran, tenaga, harta, dan waktu
      Bidang-bidang jihad
     Jihad nafs
     Jihad tarbawi: jihad melalui pendidikan dan pengajaran
     Jihad siyasi: jihad melalui politik untuk menegakkan keadilan dan kesejahteraan rakyat
     Jihad qital atau jihadul-yad (tangan): jihad dengan pedang dan senjata

Sifat-sifat Mu’min
      Mu’min yang telah melakukan perdagangan dengan Allah memiliki sifat-sifat yang disebutkan dalam 9:112
      Sifat-sifat itu dalam bentuk isim fa’il yang menunjukkan bahwa sifat itu melekat dengan dzatnya (الصفة مُلْتَصِقَةُ بِالذَّاتِ)
      Ada 7 sifat:
1.      التَّائِبُونَ  (yang bertobat)
2.      الْعَابِدُونَ  (yang beribadah)
3.      الْحَامِدُونَ  (yang memuji Allah)
4.      السَّائِحُونَ  (yang melawat)
5.      الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ  (yang rukuk, yang sujud)
6.      الْآَمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ  (yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat mungkar)
7.      وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ (yang memelihara hukum-hukum Allah)

0 komentar:

Popular Posts

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.