شُرُوْطُ قَبُوْلِ الشَّهَادَتَيْنِ
Syarat-syarat
Diterimanya Syahadatain
Pertemuan 6
Kunci Sorga
• Dalam atsar disebutkan
قِيلَ لِوَهْبِ بْنِ مُنَبِّهٍ
أَلَيْسَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مِفْتَاحُ الْجَنَّةِ قَالَ بَلَى
Ditanyakan kepada Wahab bin
Munabbih, "Bukankah laa ilaaha illallah itu merupakan kunci surga?"
Wahab menjawab, "Benar,”
Syahadat yang Memenuhi Syarat
• Syahadat yang memenuhi syarat
itu seperti kunci yang punya gigi
• Apabila satu gigi kunci patah,
maka kunci tidak dapat digunakan
• Begitu pun syarat syahadatain,
harus terpenuhi semuanya, tidak boleh ada yang rusak
SYARAT PERTAMA: ILMU YANG MENIADAKAN KEBODOHAN (اَلْعِلْمُ
اَلْمُنَافِيْ لِلْجَهْلِ)
•
Seseorang yang bersyahadat harus memiliki ilmu tentang syahadat yang
diucapkannya
•
Orang yang bersyahadat tanpa mengetahui makna/kandungan syahadat tidak
diterima
•
3:18 bahwa yang diakui syahadat (persaksian)-nya hanya tiga pihak:
Allah, malaikat, dan orang-orang yang berilmu
شَهِدَ اللَّهُ
أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا
بِالْقِسْطِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Syahadat Orang yang Berilmu
•
Syahadat orang yang berilmu disejajarkan dengan syahadatnya Allah dan
malaikat
•
Ditempatkannya syahadat orang yang berilmu setelah syahadatnya malaikat
merupakan pujian dari Allah
–
Syahadatnya mantap sekali
–
Paling dekat dengan Allah
Bukti: JIHAD
•
Jika kalbu telah merasakan lezatnya iman dan kegandrungan kepadanya
serta telah mengakar, niscaya akan mendorong untuk mewujudkan kebenaran itu di
luar kalbu
•
Kalau realitas di luar kalbu bertentangan dengan iman, maka ia akan
berjihad dengan harta dan jiwanya
•
JIHAD ada dua komponen
–
Sungguh-sungguh (جِدِّيَّةٌ)
–
Terus-menerus (إِسْتِمَرَارِيَّةٌ)
Inilah Iman yang Benar
•
أُولَئِكَ هُمُ
الصَّادِقُونَ (mereka itulah orang-orang yang benar)
–
إِنَّهُمْ
مُؤْمِنُوْنَ (merekalah yang disebut mu’min)
–
Bukan seperti sebagian orang
badui (49:14) yang belum beragama secara baik, masih perkataan lahiriahnya saja
Oleh-oleh Isra Mi’raj
وَأُعْطِيَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم ثَلاَثًا:
أعْطِيَ الصلوات الخمس،
وأعْطِي خواتيمَ سورة البقرة،
وغُفِرَ لِمَنْ لَمْ يُشْرِكْ بِاللهِ مِنْ أُمَّتِهِ
شيئًا المُقْحَماتُ
Diberikan kepada Rasulullah
SAW (saat Isra Mi’raj) tiga hal: diberikan shalat lima waktu, diberikan
akhir surat al-Baqarah, dan diampuni siapa saja yang tidak menyekutukan
Allah dengan apapun (HR Muslim)
CINTA YANG MENGHILANGKAN KEMARAHAN DAN KEBENCIAN
•
Orang yang bersyahadat harus menghasilkan cinta yang sempurna kepada
Allah, Rasul dan jihad
•
2:165 وَالَّذِينَ
آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ (Adapun orang-orang yang beriman
sangat cinta kepada Allah)
•
9:24 cinta kepada Allah, Rasul dan jihad di atas segalanya (bapak, anak,
istri, kaum keluarga, harta, perniagaan, dan rumah tempat tinggal)
Iman dan Amal
•
Allah SWT selalu mengaitkan iman dengan amal shalih
•
Orang munafik sukanya pasif (duduk) dan meninggalkan jihad (9:83) dengan
1001 alasan:
–
Merasa berat (9:38) اثَّاقَلْتُمْ
إِلَى الأرْضِ
–
Ridho kepada kehidupan dunia (9:38) أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا
–
Cenderung kepada dunia (7:176) أَخْلَدَ إِلَى الأرْضِ
–
Mengikuti hawa nafsu (7:176) وَاتَّبَعَ هَوَاهُ
–
Keuntungannya masih lama (9:42) عَرَضًا قَرِيبًا
–
Jaraknya jauh (9:42) وَسَفَرًا
قَاصِدًا
–
Hawanya panas (9:81) لا تَنْفِرُوا
فِي الْحَرِّ
Kesimpulan
•
Agar syahadat kita diterima maka harus didukung oleh ilmu, keyakinan,
keikhlasan, ketulusan, kecintaan, penerimaan, dan pelaksanaan
•
Kebodohan, keraguan, syirik, dusta, benci, menolak, dan pasif adalah
hal-hal yang membuat syahadat tidak diterima
اَلرِّضَى
Kerelaan
Yang Dikehendaki Allah
• Yang dikehendaki Allah ada 3
macam
- Yang dikehendaki Allah TERHADAP DIRI KITA (مَا أَرَادَهُ اللهُ بِنَا)
- Yang dikehendaki Allah TERHADAP ALAM SEMESTA (مَا أَرَادَهُ اللهُ بِالْكَوْنِ)
- Yang dikehendaki Allah DARI DIRI KITA (مَا
أَرَادَهُ اللهُ مِنَّا)
Syukur dan
Sabar
• Apapun takdir yang menimpa
kita à harus ridho
• Realisasi ridho menerima
takdir
– Takdir baik à syukur
– Takdir buruk à sabar
• Keduanya adalah sifat mu’min
yang mengagumkan
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ
أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ
أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ
صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Menakjubkan perkara orang
beriman sebab segala keadaannya baik dan tidak mungkin terjadi yang demikian
melainkan bagi seorang mu’min: apabila mendapatkan kemudahan bersyukur maka itu
baik baginya, dan apabila ditimpa kesusahan bersabar maka itu baik baginya (HR. Muslim)
Manisnya
Iman
• Keridhoan akan musibah yang
menimpa kita merupakan jalan untuk merasakan manisnya iman
– Kita tidak menyandarkan
musibah pada kesalahan kita
– Kesalahan kita pun tidak
berakibat musibah
• Rasulullah SAW bersabda
لاَ يَجِدُ عَبْدٌ حَلاَوَةَ
الإِيْمَانِ حَتىَّ يَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ ،
وَأَنَّ مَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَهُ
“Tidaklah seorang hamba
merasakan manisnya keimanan sehingga dia menyadari bahwa apa yang akan
menimpanya bukan karena kesalahannya dan apa kesalahannya tidak menyebabkan ia
tertimpa (musibah).”
(HR Ibnu Abi Ashim, hadits
sahih dengan sanad yang baik, termaktub dalam silisilah hadits sahih karya Imam
Albani)
Doa dan
Takdir
• Sering ada pertanyaan: apa
perlunya kita berdoa sementara qadha-qadar sudah tertulis?
• Hal yang mendasar: DOA adalah
ibadah, bahkan otaknya ibadah (اَلدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ), karena diperintahkan oleh
Allah (40:60)
• Kedua: doa dan usaha tidak
pernah berpisah! Sedangkan hasil, itu hak Allah, kita diperintahkan untuk
TAWAKKAL kepada Allah saja
• Adapun tentang doa dan
pengabulannya, perhatikan uraian selanjutnya
Doa
- Ada yang langsung dikabulkan (CASH)
– Misalnya minta lulus, ternyata
lulus
- Ada yang ditangguhkan beberapa lama
– Hikmah: saat dikabulkan,
ni’matnya lebih terasa atau tepat pada waktunya
- Ada yang diganti dengan menghindarkan dari bencana
– Minta rizki, lalu dikabulkan
dapat Rp 1 juta; tapi dapat musibah yang biayanya 1 juta juga
– Mana yang dipilih? Terhindar
dari musibah itu atau dapat rizki tapi dapat musibah?
– Kita tidak tahu mana yang baik
buat kita, tapi Allah lebih tahu (2:216)
- Dibayar di akhirat
تَحْقِيْقُ مَعْنَى الشَّهَادَتَيْنِ
Realisasi Makna Syahadatain (1)
Hubungan Mu’min dan Allah
• Setelah seseorang bersyahadat
maka hubungan dirinya dengan Allah SWT menjadi kuat
• Dirinya terikat dengan
hubungan ini dengan ikatan yang sangat kuat yang tidak akan terputus (2:256)
فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ
الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا
maka sesungguhnya ia telah
berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus
• Ada tiga hubungan yang harus
dijaga:
– Hubungan cinta
– Hubungan perniagaan
– Hubungan kerja
Jihad = Amal Terbaik
Ustman ra berpidato di atas
mimbar,
• “Sesungguhnya aku masih
menyimpan sebuah hadits yang pernah kudengar dari Rasulullah SAW, karena aku
khawatir kalian akan meninggalkan aku.
• Maka kini aku akan
menyampaikannya, agar setiap orang menentukan pilihannya sendiri-sendiri, mana
yang terbaik baginya.
• Aku mendengar beliau bersabda, ‘Berjaga selama sehari di jalan Allah lebih baik daripada ibadah seribu
hari pada selainnya’.”
(HR. Ahmad)
Jihad Total
• Medan jihad sangat banyak,
meskipun yang tertinggi adalah jihad di peperangan (jihad qital)
• Jihad = sungguh-sungguh à mengeluarkan segala upaya,
pikiran, tenaga, harta, dan waktu
• Bidang-bidang jihad
– Jihad nafs
– Jihad tarbawi: jihad melalui
pendidikan dan pengajaran
– Jihad siyasi: jihad melalui
politik untuk menegakkan keadilan dan kesejahteraan rakyat
– Jihad qital atau jihadul-yad
(tangan): jihad dengan pedang dan senjata
Sifat-sifat
Mu’min
• Mu’min yang telah melakukan
perdagangan dengan Allah memiliki sifat-sifat yang disebutkan dalam 9:112
• Sifat-sifat itu dalam bentuk
isim fa’il yang menunjukkan bahwa sifat itu melekat dengan dzatnya (الصفة مُلْتَصِقَةُ بِالذَّاتِ)
• Ada 7 sifat:
1.
التَّائِبُونَ (yang bertobat)
2.
الْعَابِدُونَ (yang beribadah)
3.
الْحَامِدُونَ (yang memuji Allah)
4.
السَّائِحُونَ (yang melawat)
5.
الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ (yang rukuk, yang sujud)
6.
الْآَمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ
وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ (yang menyuruh berbuat makruf
dan mencegah berbuat mungkar)
7.
وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ (yang memelihara hukum-hukum
Allah)
0 komentar:
Posting Komentar