This is default featured slide 1 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by Premiumblogtemplates.com

This is default featured slide 2 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by Premiumblogtemplates.com

This is default featured slide 3 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by Premiumblogtemplates.com

This is default featured slide 4 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by Premiumblogtemplates.com

This is default featured slide 5 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by Premiumblogtemplates.com

Jumat, 27 Juni 2014

STORY BOARD
GAME “ADVENTURE OF GO TO SCHOOL”
Tujuan           :
1.      Mengembangkan Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Informasi Khususnya dalam bidang Pendidikan
2.      Sebagai Sarana Belajar Siswa Khususnya pelajar SD  kelas 2

Manfaat :
1.      Agar siswa tidak jenuh dengan pelajaran di kelas yang pola pengajaranya masih monoton
2.      Game ini dapat dijadikan sebagai kuis dalam kelas

Sasaran          :
Siswa SD kelas 2

Alur dalam cerita game :
Seorang anak bernama Cumay dia tinggal bersama ibunya disebuah desa yang terpencil, Cumay anak yang cerdas dan pemberani yang bersemangat sekali untuk pergi kesekolah, namun untuk menuju kesekolahnya Cumay harus melewati hutan rimba dan harus menjawab soal-soal dari pununggu hutan agar diperbolehkan melanjutkan perjalanan menuju kesekolahnya.


Minggu, 27 April 2014


Pelajaran Untuk semua 

Pengertian Masalah

Apa sih MASALAH ????
Masalah adalah suatu kesenjangan antara Kenyataan dengan Harapan

Pengertian Orang Cerdas

Orang  Cerdas adalah Orang yang mampu menyelasaikan Masalah

Pengertian Orang Pintar

Orang  pintar adalah orang yang mampu menyelesaikan masalah dengan memanfaatkan Ilmu Pengetahuan yang dia miliki

Pengertian Orang  Bijaksana

Orang Bijaksana adalah orang yang dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk sebelum berbuat atau bertindak

Pengertian Orang Bodoh

Orang Bodoh adalah orang yang tidak menggunakan Ilmu pengetahuan yang dia miliki untuk menyelesaikan masalah.

Terima kasih


 Pak Karyana 

Minggu, 13 April 2014



                                                                       

 HAKIKAT PEMBELAJARAN PJJ

DISUSUN

OLEH



                                                                            

HARDI
                                                    ASHADI
SUMIATI
FARID RAZAKI
MUHAMMAD AKBAR


KATA PENGANTAR

Sistem pendidikan jarak jauh (PJJ), yang dipersepsikan sebagai inovasi abad 21, merupakan sistem pendidikan yang memiliki daya jangkau luas lintas ruang, waktu, dan sosioekonomi. Sistem PJJ membuka akses terhadap pendidikan bagi siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Melalui berbagai perangkat hukum yang telah dikeluarkan pemerintah, yaitu SK Mendiknas No.107/U/2001, UU Sisdiknas No. 20/2003, PP 17/2010, dan juga PP 66/2010, sistem PJJ sudah menjadi bagian yang menyatu dalam dunia pendidikan di Indonesia, dan menjadi pilihan bagi masyarakat untuk memperoleh akses terhadap pendidikan, termasuk pendidikan guru dan tenaga kependidikan. Situasi ini mendorong berbagai institusi pendidikan, terutama pendidikan tinggi, untuk berpartisipasi aktif dalam pendidikan jarak jauh.
Pada tahun 2010, angka partisipasi kasar pendidikan tinggi di Indonesia mencapai 21,6%. Suatu hasil yang menggembirakan, namun masih jauh dari pencapaian target nasional, yaitu 30% pada tahun 2015. Dalam PP 17/2010 pasal 118 dinyatakan bahwa PJJ diselenggarakan dengan tujuan meningkatkan perluasan dan pemerataan akses pendidikan, serta meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan. Oleh karenanya PJJ memiliki karakteristik terbuka, belajar mandiri, belajar tuntas, menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) , dan/atau menggunakan teknologi lainnya. Melalui sistem PJJ, setiap orang dapat memperoleh akses terhadap pendidikan berkualitas tanpa harus meninggalkan keluarga, rumah, pekerjaan, dan tidak kehilangan kesempatan berkarir. Sifat masal sistem PJJ dalam mendistribusikan pendidikan berkualitas yang terstandar dengan menggunakan TIK, standardisasi capaian pembelajaran (learning outcomes), materi ajar, proses pembelajaran, bantuan belajar, dan evaluasi pembelajaran, menjadikan pendidikan berkualitas dapat diperoleh berbagai kalangan lintas ruang dan waktu.
Mengingat pentingnya program ini, maka Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi menerbitkan Panduan Penyelenggaraan Model Pembelajaran Pendidikan Jarak Jauh. Panduan ini digunakan oleh perguruan tinggi untuk penyusunan proposal pembukaan program dan pengelolaan Pendidikan Jarak Jauh pada jenjang Pendidikan Tinggi. Kami sampaikan terima kasih pada semua pihak yang telah berpartisipasi dan membantu penyusunan panduan ini. Kritik dan saran masih terbuka dan diharapkan masukan dari berbagai pihak terkait guna penyempurnaan dan kelengkapan panduan ini.




Jakarta, April 2014
    Pengampuh


Timbul Pardede


BAB I
PENDAHULUAN
Sistem pendidikan jarak jauh (PJJ), yang dipersepsikan sebagai inovasi abad 21, merupakan sistem pendidikan yang memiliki daya jangkau luas lintas ruang, waktu, dan sosioekonomi. Sistem PJJ membuka akses terhadap pendidikan bagi siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Dengan karakteristik tersebut, sistem PJJ seringkali dianggap sebagai solusi terhadap berbagai masalah pendidikan, terutama yang berkaitan dengan pemerataan dan demokratisasi pendidikan, serta perluasan akses terhadap pendidikan berkualitas kepada seluruh lapisan masyarakat lintas ruang dan waktu. Melalui berbagai perangkat hukum yang telah dikeluarkan pemerintah, yaitu SK Mendiknas No. 107/U/2001, UU Sisdiknas No. 20/2003, PP 17/2010, dan juga PP 66/2010, sistem PJJ sudah menjadi bagian yang menyatu dalam dunia pendidikan di Indonesia, dan menjadi pilihan bagi masyarakat untuk memperoleh akses terhadap pendidikan, termasuk pendidikan guru dan tenaga kependidikan. Situasi ini mendorong berbagai institusi pendidikan, terutama pendidikan tinggi, untuk berpartisipasi aktif dalam pendidikan jarak jauh. Dalam perkembangannya, sistem pendidikan jarak jauh mengambil manfaat besar dari perkembangan media dan teknologi pembelajaran yang dapat menjembatani kebutuhan akan pendidikan secara massal dan luas. Perkembangan teknologi yang pesat memunculkan model pendidikan jarak jauh yang fleksibel dan cerdas, mampu membuka akses pendidikan bagi siapa saja melintasi batas ruang dan waktu, serta mengatasi berbagai kendala sosioekonomis. Dalam PP 17/2010 pasal 118 dinyatakan bahwa PJJ diselenggarakan dengan tujuan meningkatkan perluasan dan pemerataan akses pendidikan, serta meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan. Oleh karenanya PJJ memiliki karakteristik terbuka, belajar mandiri, belajar tuntas, menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) , dan/atau menggunakan teknologi lainnya. Melalui sistem PJJ, setiap orang dapat memperoleh akses terhadap pendidikan berkualitas tanpa harus meninggalkan keluarga, rumah, pekerjaan, dan tidak kehilangan kesempatan berkarir. Selain akses, sistem PJJ juga meningkatkan pemerataan kualitas pendidikan bagi setiap orang. Sifat massal sistem PJJ dalam mendistribusikan pendidikan berkualitas yang terstandar dengan menggunakan TIK, standardisasi capaian pembelajaran (learning outcomes), materi ajar, proses pembelajaran, bantuan belajar, dan evaluasi pembelajaran, menjadikan pendidikan berkualitas dapat diperoleh berbagai kalangan lintas ruang dan waktu.




BAB II
HAKIKAT PEMBELAJARAN PJJ


A.    Hakikat Pembelajaran PJJ
Pembelajaran di PJJ tergantung oleh peserta didik. Peserta didik memiliki otonomi penuh atas proses belajarnya. Peserta didik yang menentukan apakah proses belajar tersebut terjadi atau tidak. Peserta didik yang tahu apakah kemampuan yang harus dikuasai memang benar-benar terkuasai secara mendalam, atau hanya sekedar memenuhi syarat lulus. Oleh karena itu PJJ tergantung dalam inisiatif dari peserta didik itu sendiri.

3 aspek utama dalam PJJ yaitu :
·         Keterpisahan pengajar dan peserta didik
PJJ memang melayani kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler. Peserta didik ini tersebar di seluruh pelosok tanah air, mempunyai keterbatasan waktu dan jarak, serta usia yang sangat bervariasi.

·         Kemandirian
Pada kenyataannya, kadar kemampuan belajar mandiri ini sangat bervariasi karena dipengaruhi oleh banyak faktor. Menurut Sugilar (2000), makin tinggi kendali mahasiswa atas pembelajaran yang sedang dijalaninya, dan dengan sendirinya kesiapannya untuk belajar mandiri makin tinggi pula. Keterampilan belajar (learning skills), yang merupakan modal dalam belajar mandiri, sikap dan persepsi mahasiswa terhadap belajar yang terkait dengan pendekatan belajar, sebagaimana yang diungkapkan oleh Light & Cox (2001), serta berbagai kondisi eksternal ikut berpengaruh terhadap kesiapan peserta didik untuk belajar mandiri.

·         Layanan belajar atau tutorial
Tutorial berkaitan dengan tingkat kemandirian peserta didik. Tutorial atau seperti yang disebut oleh Simpson (2000) sebagai bantuan belajar, baik yang bersifat akademik maupun non-akademik  berperan besar dalam proses pembelajaran di PJJ. Sebagaimana dikatakan oleh Garison (1993), kemandirian dicapai melalui interaksi, bukan isolasi. Ini berarti, peserta didik PJJ tidak boleh dibiarkan sendiri, mereka harus disentuh dengan berbagai tutorial yang akan membuat mereka termotivasi dan terbebas dari kesepian.

B.     Modus Pembelajaran PJJ
Modus Pembelajaran dalam PJJ ditempuh dalam pembelajaran mandiri dan tutorial, karena pengajar dan peserta didik tidak bertatap muka secara langsung seperti kelas regular. Berdasar modus penyelenggaraannya, tutorial dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu jarak jauh dan tatap muka.
1.      Tutorial Jarak Jauh

a.       Tutorial secara tertulis yang disampaikan melalui korespondensi
Bahan ajar tertulis ini menggunakan media cetak. Pertanyaan dari peserta didik dan respon dari pendidik disampaikan melalui korespondensi.

b.      Tutorial melalui multimedia
Tutorial multimedia dapat dikemas dengan kaset audio, kaset, video. Media tersebut dapat dimanfaatkan oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhannya, sehingga mempunyai fleksibilitas dalam hal waktu, tempat, dan kecepatan.

c.     Tutorial secara tersiar, baik melalui radio maupun televisi (TV)
Tutorial yang disiarkan melalui radio maupun TV diharapkan peserta didik dapat mengajukan pertanyaan, baik melalui telepon maupun secara tertulis untuk dijawab atau dibahas pada siaran berikutnya.

d.   Tutorial melalui telepon
Layanan ini memberi kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan kontak dengan para pengajar melalui telepon, sesuai dengan kesepakatan. Dalam hubungan telepon tersebut dapat dibahas berbagai masalah dalam pembelajaran, baik yang berhubungan dengan substansi maupun yang berkaitan dengan administrasi akademik atau kejelasan panduan belajar.



e. Tutorial Online
Tutorial online ini sangat besar pengaruhnya terhadap PJJ, karena kemudahan pengaksesan data. Kelebihan dari tutorial jenis ini adalah layanan yang dapat diberikan mencakup layanan akademik dan non-akademik. Melalui internet yang berbasis web, para peserta didik dapat mengakses berbagai layanan yang disediakan oleh penyelenggara PJJ, seperti mengecek nilai, mengikuti tutorial, perolehan feedback, mendapatkan materi suplemen, serta inforrnasi terbaru yang berkaitan dengan kalender akademik, peristiwa penting, atau kegiatan kemahasiswaan.

   2.       Tutorial Tatap Muka
Pertemuan tatap muka diperlukan khususnya bagi proses belajar yang terkait dengan pembentukan kompetensi tertentu. Daam PJJ pertemuan tatap muka ini diharapkan peserta didik dapat berinteraksi secara langsung dengan pengajar maupun peserta didik yang lain.


C.      
BAB III
PENUTUP

Dalam sebuah penyelenggaraan sistem PJJ, media merupakan sebuah prasyarat yang diperlukan untuk menjembatani keterpisahan antara pengajar dan peserta didik, yang menjadi ciri atau karakteristik sistim PJJ. Media memberikan kemungkinan terjadinya proses belajar mengajar dalam suatu sistim PTJJ. Dari sisi pengelolaan institusi pendidikan jarak jauh, peran pengelola dalam pemanfaatan media adalah menentukan media yang tepat guna dan tepat sasar bagi peserta didik. Walaupun memang tidak dapat dipungkiri bahwa cepat lambatnya proses belajar mengajar yang berlangsung dalam sistim PJJ selain bergantung pada kemampuan dan karakteristik media yang digunakan juga bergantung pada kemampuan peserta didik.

A.    Kesimpulan
Seiring dengan Perkembangan di Indonesia yang semakin canggih sehingga banyak membuat Provinsi, Kota, hingga sampai Desa yang masih ke tinggalan dengan Teknologi yang canggih. Apalagi daerah terpencil yang belum tahu apa-apa, belum lagi dengan Pendidikan yang ada di sana Pastinya beda sekali dengan daerah Kita. Dengan adanya sistem Pendidikan Jarak Jauh serta Hakikat Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dapat membuat Perkembangan diseluruh indonesia, dan dapat bersaing dengan negara-negara lain.
B.     Kritik dan Saran
Menurut kami, masih banyak hal-hal yang perlu di perhatikan di dalam  Hakikat Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)  yang perlu diperbaiki dan di kembangkan lagi. Agar setiap Provinsi, Kota, hingga sampai Desa semuanya bisa merasakan, dan menikmati Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ini.
Sehingga setiap Provinsi, Kota, hingga sampai Desa bisa memahami bagaimana cara Hakikat Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Apalagi nantinya kalau di dalam dunia Teknologi Semakin cangih. Kami takutkan desa-desa kecil, atau terpencil dapat ketinggaalan.

           

DAFTAR PUSTAKA

http://wuricahya.blogspot.com/2012/08/hakikat-dan-modus-pembelajaran-di-pjj.html


Kamis, 10 April 2014

Nama              : Sumiati
Tanggal          : 11 April 2014



JAWABAN SOAL – 1
Kedua aspek sangat penting dalam pemanfaatan TIK. Sama halnya dengan pertanyaan “mana yang lebih dulu? Ayam atau telur?”, pertanyaan tersbut memang cukup menguras kepala (berfikir) untuk mendapatkan jawabanya baik secara rumus maupun analisis. Mengapa? Karena segala sesuatu yang diciptakan melalui atau berdasarkan proses berkelanjutan atau bermetamorfosis sehingga menjadi suatu bagian yang utuh atau menjadi Life-Cycle atau Siklus kehidupan.
Dalam aspek ini peningkatan skill Dosen/Guru sangat baik, tapi apakah tanpa adanya media yang embantu guru tersebut dapat berkembang atau dapat meningkatkan skill dan mutu pendidikannya tentang TIK. Oleh karna itu Media pembelajaran TIK juga berperan penting dalam meningkatkan skill Dosen/guru tersebut.
Dan jika pelaksanaan peningkatan skill (Dosen/Guru) hanya dengan teori tanpa adanya praktik tentang media TIK . dosen itu tidak akan berkembang.
Contoh kasusnya seorang guru dari daerah pelosok yang ingin meningkatkan skill-nya dalam pemanfaatan TIK, tapi beliau tidak memiliki biaya untuk membeli Media pembelajaran TIK. Untuk meningkatkan skill beliau cukup mengkuti seminar-seminar yang ada kaitannya tentang peningkatan skill beliau.
Kesimpulan dari jawaban saya , mau memulai dari aspek mana saja tidak jadi masalah asalkan tujuan pembelajar tercapai. Faktor utama yang menjadi utama antara pengadaan media pembelajaran TIK dalam pembelajaran atau peningkatan skill dosen atau guru dalam memanfaatkan media pembelajaran TIK juga tergantung kondisi yang ada.

JAWABAN SOAL – 2
Dari tujuh kriteria menurut Bates (1995). ini merupakan pedoman untuk memilih media PJJ, dan biasanya disebut dengan istilah ACTIONS. Dan pastinya tujuh kriteria tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan. Di sini, saya akan mengungkapkan pendapat saya tentang kemungkinan kekurangan dari setiap kriteria dan penyelesaiannya. Kritera tersebut yakni:
1.      Access (aksesibilitas)
Kemungkinan kekurangan adalah susahnya peserta didik memiliki media pembelajaranyang akan ditentukan oleh penyelenggara PJJ. Jadi, penyelenggara PJJ harus mengetahui  media yang tepat entah internet (secara online) ataupun media cetak seperti modul, CD interaktif dan lainnya, yang lebih mudah didapat oleh peserta didik.
2.      Costs (biaya)
Masalah yang mungkin timbul adalah membengkaknya dana dari peserta didik, jika media yang dipilih secara online. Hal ini karena biaya yang digunakan untuk mengisi puulsa modem misalnya. Jadi solusinya, pihak peyelenggara PJJ harus memastikan peserta didik memiliki koneksi yang lebih ringan misalnya dengan melihat fasilitas wifi yang ada di sekolah/universitas di mana peserta didik sekolah.
3.      Teaching and Learning (proses dosenan dan pembelajaran)
Masalah yang mungkin muncul penjelasan modul yang berbentuk buku kurang jelas.Solusinya, dapat dibuat buku digital yang terdapat video, audio, dan gambar. Juga dapat dibuka forum diskusi melalui internet.
4.      Interactivity (interaktifitas/komunikasi dua arah)
Masalah yang mungkin muncul kurangnya komunikasi, walaupun mungkin dapat dilakukan secara online. Solusinya sesekali diadakan pertemuan dan pengarahan dari penyelenggara PJJ.
5.      Organisational Issues (permasalahan organisasi)
Masalahnya adalah perbedaan pendapat untuk menentukan media apa yang digunakan untuk PJJ, solusinya dengan mengadakan survey media apa yang paling sesuai dengan keadaan para peserta didik.
6.      Novelty (kemutakhiran)
Masalah yang mungkin timbul peserta didik jenuh dengan media yang telah ditentukan, yang mengakibatkan malas belajar. Solusinya, dapat digunakan media penunjang lainselain media yang telah ditentukan.
7.      Speed (kecepatan)
Kemungkinan masalahnya jika menggunakan modul, informasi terbaru tidak akan cepat sampai. Maka solusinya, juga harus menggunakan media online.
Kesimpulan dari jawaban saya adalah setiap media pembelajaran yang dipilih memiliki sisi positif dan negatif. Dan langkah terbaik untuk memilih media adalah dengan mempertimbangkan ketujuh kriteria tersebut, dengan melakukan survey keadaan peserta didik lalu menentukan media yang paling tepat. Namun lebih baik lagi, jika saat menggunakan suatu media mengalami kekurangan, dapat ditambahi/dilengkapi dengan menggunakan media yang lain. Jadi setiap kekurangan media yang dipilih dapat tertutupi.

JAWABAN SOAL – 3
Menurut saya Faktor yang mempengaruhi adalah cara belajar, kurang komunikasi pengajar dengan peserta didik dan kurang aktif, kreatif dan interaktif peserta didik dalam memperoleh ilmu dengan cara bertanya kepada dosen atau asisten dosen, dan terlalu banyaknya siswa sedangkan Dosen yang mengajar kurang dari cukup untuk menghendel murid yang begitu banyak. Sehingga yang lulus kurang dari 50 persen, jadi menurut saya untuk mengikuti PJJ dibutuhkan interaksi antara Dosen dengan Siswa agar semua siswa dapat lulus dalam PJJ.


Rabu, 09 April 2014

Topik ke-1



Permasalahnnya : Tidak ada tatap muka dalam pembelajaran ini. Harus belajar sendiri baik secara Online maupun Ofline
Kendala               : Jaringan inernet yang sering bermasalah, media pembelajaran seperti elearning sering down, jauh dari pembimbing dan teman-teman untuk bertanya.

Solusi                 : Pembelajaran ini adalah siswa harus kreatif dan rajin mencari materi serta informasi melalui media internet maupun buku referensi sendiri. yang terpenting adalah adanya jaringan internet yang baik.

Popular Posts

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.