HAKIKAT PEMBELAJARAN PJJ
DISUSUN
OLEH
DISUSUN
OLEH
HARDI
ASHADI
SUMIATI
FARID RAZAKI
MUHAMMAD AKBAR
KATA PENGANTAR
Sistem
pendidikan jarak jauh (PJJ), yang dipersepsikan sebagai inovasi abad 21,
merupakan sistem pendidikan yang memiliki daya jangkau luas lintas ruang,
waktu, dan sosioekonomi. Sistem PJJ membuka akses terhadap pendidikan bagi
siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Melalui berbagai perangkat hukum yang
telah dikeluarkan pemerintah, yaitu SK Mendiknas No.107/U/2001, UU Sisdiknas
No. 20/2003, PP 17/2010, dan juga PP 66/2010, sistem PJJ sudah menjadi bagian
yang menyatu dalam dunia pendidikan di Indonesia, dan menjadi pilihan bagi masyarakat
untuk memperoleh akses terhadap pendidikan, termasuk pendidikan guru dan tenaga
kependidikan. Situasi ini mendorong berbagai institusi pendidikan, terutama
pendidikan tinggi, untuk berpartisipasi aktif dalam pendidikan jarak jauh.
Pada
tahun 2010, angka partisipasi kasar pendidikan tinggi di Indonesia mencapai
21,6%. Suatu hasil yang menggembirakan, namun masih jauh dari pencapaian target
nasional, yaitu 30% pada tahun 2015. Dalam PP 17/2010 pasal 118 dinyatakan
bahwa PJJ diselenggarakan dengan tujuan meningkatkan perluasan dan pemerataan
akses pendidikan, serta meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan. Oleh
karenanya PJJ memiliki karakteristik terbuka, belajar mandiri, belajar tuntas,
menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) , dan/atau menggunakan teknologi
lainnya. Melalui sistem PJJ, setiap orang dapat memperoleh akses terhadap
pendidikan berkualitas tanpa harus meninggalkan keluarga, rumah, pekerjaan, dan
tidak kehilangan kesempatan berkarir. Sifat masal sistem PJJ dalam
mendistribusikan pendidikan berkualitas yang terstandar dengan menggunakan TIK,
standardisasi capaian pembelajaran (learning outcomes), materi ajar,
proses pembelajaran, bantuan belajar, dan evaluasi pembelajaran, menjadikan
pendidikan berkualitas dapat diperoleh berbagai kalangan lintas ruang dan
waktu.
Mengingat
pentingnya program ini, maka Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi menerbitkan Panduan
Penyelenggaraan Model Pembelajaran Pendidikan Jarak Jauh. Panduan ini digunakan
oleh perguruan tinggi untuk penyusunan proposal pembukaan program dan
pengelolaan Pendidikan Jarak Jauh pada jenjang Pendidikan Tinggi. Kami
sampaikan terima kasih pada semua pihak yang telah berpartisipasi dan membantu penyusunan
panduan ini. Kritik dan saran masih terbuka dan diharapkan masukan dari
berbagai pihak terkait guna penyempurnaan dan kelengkapan panduan ini.
Jakarta, April
2014
Pengampuh
Timbul Pardede
BAB I
PENDAHULUAN
Sistem
pendidikan jarak jauh (PJJ), yang dipersepsikan sebagai inovasi abad 21,
merupakan sistem pendidikan yang memiliki daya jangkau luas lintas ruang,
waktu, dan sosioekonomi. Sistem PJJ membuka akses terhadap pendidikan bagi
siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Dengan karakteristik tersebut, sistem
PJJ seringkali dianggap sebagai solusi terhadap berbagai masalah pendidikan,
terutama yang berkaitan dengan pemerataan dan demokratisasi pendidikan, serta
perluasan akses terhadap pendidikan berkualitas kepada seluruh lapisan
masyarakat lintas ruang dan waktu. Melalui berbagai perangkat hukum yang telah
dikeluarkan pemerintah, yaitu SK Mendiknas No. 107/U/2001, UU Sisdiknas No.
20/2003, PP 17/2010, dan juga PP 66/2010, sistem PJJ sudah menjadi bagian yang
menyatu dalam dunia pendidikan di Indonesia, dan menjadi pilihan bagi
masyarakat untuk memperoleh akses terhadap pendidikan, termasuk pendidikan guru
dan tenaga kependidikan. Situasi ini mendorong berbagai institusi pendidikan, terutama
pendidikan tinggi, untuk berpartisipasi aktif dalam pendidikan jarak jauh. Dalam
perkembangannya, sistem pendidikan jarak jauh mengambil manfaat besar dari perkembangan
media dan teknologi pembelajaran yang dapat menjembatani kebutuhan akan pendidikan
secara massal dan luas. Perkembangan teknologi yang pesat memunculkan model pendidikan
jarak jauh yang fleksibel dan cerdas, mampu membuka akses pendidikan bagi siapa
saja melintasi batas ruang dan waktu, serta mengatasi berbagai kendala
sosioekonomis. Dalam PP 17/2010 pasal 118 dinyatakan bahwa PJJ diselenggarakan
dengan tujuan meningkatkan perluasan dan pemerataan akses pendidikan, serta
meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan. Oleh karenanya PJJ memiliki
karakteristik terbuka, belajar mandiri, belajar tuntas, menggunakan teknologi
informasi dan komunikasi (TIK) , dan/atau menggunakan teknologi lainnya.
Melalui sistem PJJ, setiap orang dapat memperoleh akses terhadap pendidikan berkualitas
tanpa harus meninggalkan keluarga, rumah, pekerjaan, dan tidak kehilangan kesempatan
berkarir. Selain akses, sistem PJJ juga meningkatkan pemerataan kualitas pendidikan
bagi setiap orang. Sifat massal sistem PJJ dalam mendistribusikan pendidikan berkualitas
yang terstandar dengan menggunakan TIK, standardisasi capaian pembelajaran (learning
outcomes), materi ajar, proses pembelajaran, bantuan belajar, dan evaluasi pembelajaran,
menjadikan pendidikan berkualitas dapat diperoleh berbagai kalangan lintas ruang
dan waktu.
BAB
II
HAKIKAT
PEMBELAJARAN PJJ
A.
Hakikat
Pembelajaran PJJ
Pembelajaran
di PJJ tergantung oleh peserta didik. Peserta didik memiliki otonomi penuh atas
proses belajarnya. Peserta didik yang menentukan apakah proses belajar tersebut
terjadi atau tidak. Peserta didik yang tahu apakah kemampuan yang harus
dikuasai memang benar-benar terkuasai secara mendalam, atau hanya sekedar
memenuhi syarat lulus. Oleh karena itu PJJ tergantung dalam inisiatif dari
peserta didik itu sendiri.
3 aspek utama dalam PJJ yaitu :
·
Keterpisahan pengajar dan peserta didik
PJJ memang
melayani kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap
muka atau reguler. Peserta didik ini tersebar di seluruh pelosok tanah air,
mempunyai keterbatasan waktu dan jarak, serta usia yang sangat bervariasi.
·
Kemandirian
Pada
kenyataannya, kadar kemampuan belajar mandiri ini sangat bervariasi karena
dipengaruhi oleh banyak faktor. Menurut Sugilar (2000), makin tinggi
kendali mahasiswa atas pembelajaran yang sedang dijalaninya, dan dengan
sendirinya kesiapannya untuk belajar mandiri makin tinggi pula. Keterampilan
belajar (learning skills), yang merupakan modal dalam belajar mandiri,
sikap dan persepsi mahasiswa terhadap belajar yang terkait dengan pendekatan
belajar, sebagaimana yang diungkapkan oleh Light & Cox (2001), serta
berbagai kondisi eksternal ikut berpengaruh terhadap kesiapan peserta didik
untuk belajar mandiri.
·
Layanan
belajar atau tutorial
Tutorial
berkaitan dengan tingkat kemandirian peserta didik. Tutorial atau seperti yang
disebut oleh Simpson (2000) sebagai bantuan belajar, baik
yang bersifat akademik maupun non-akademik berperan besar dalam proses
pembelajaran di PJJ. Sebagaimana dikatakan oleh Garison (1993),
kemandirian dicapai melalui interaksi, bukan isolasi. Ini berarti, peserta
didik PJJ tidak boleh dibiarkan sendiri, mereka harus disentuh dengan berbagai
tutorial yang akan membuat mereka termotivasi dan terbebas dari kesepian.
B.
Modus Pembelajaran PJJ
Modus
Pembelajaran dalam PJJ ditempuh dalam pembelajaran mandiri dan tutorial, karena
pengajar dan peserta didik tidak bertatap muka secara langsung seperti kelas
regular. Berdasar modus penyelenggaraannya, tutorial dapat dikelompokkan
menjadi dua kelompok, yaitu jarak jauh dan tatap muka.
1. Tutorial Jarak Jauh
a. Tutorial
secara tertulis yang disampaikan melalui korespondensi
Bahan ajar tertulis ini menggunakan media cetak. Pertanyaan dari peserta
didik dan respon dari pendidik disampaikan melalui korespondensi.
b. Tutorial
melalui multimedia
Tutorial
multimedia dapat dikemas dengan kaset audio, kaset, video. Media tersebut dapat
dimanfaatkan oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhannya, sehingga mempunyai
fleksibilitas dalam hal waktu, tempat, dan kecepatan.
c. Tutorial secara
tersiar, baik melalui radio maupun televisi (TV)
Tutorial
yang disiarkan melalui radio maupun TV diharapkan peserta didik dapat
mengajukan pertanyaan, baik melalui telepon maupun secara tertulis untuk
dijawab atau dibahas pada siaran berikutnya.
d. Tutorial
melalui telepon
Layanan ini
memberi kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan kontak dengan para
pengajar melalui telepon, sesuai dengan kesepakatan. Dalam hubungan telepon
tersebut dapat dibahas berbagai masalah dalam pembelajaran, baik yang
berhubungan dengan substansi maupun yang berkaitan dengan administrasi akademik
atau kejelasan panduan belajar.
e. Tutorial Online
Tutorial
online ini sangat besar pengaruhnya terhadap PJJ, karena kemudahan pengaksesan
data. Kelebihan dari tutorial jenis ini adalah layanan yang dapat diberikan
mencakup layanan akademik dan non-akademik. Melalui internet yang berbasis web,
para peserta didik dapat mengakses berbagai layanan yang disediakan oleh
penyelenggara PJJ, seperti mengecek nilai, mengikuti tutorial, perolehan
feedback, mendapatkan materi suplemen, serta inforrnasi terbaru yang berkaitan
dengan kalender akademik, peristiwa penting, atau kegiatan kemahasiswaan.
2.
Tutorial
Tatap Muka
Pertemuan
tatap muka diperlukan khususnya bagi proses belajar yang terkait dengan
pembentukan kompetensi tertentu. Daam PJJ pertemuan tatap muka ini diharapkan
peserta didik dapat berinteraksi secara langsung dengan pengajar maupun peserta
didik yang lain.
C.
BAB III
PENUTUP
Dalam
sebuah penyelenggaraan sistem PJJ, media merupakan sebuah prasyarat yang
diperlukan untuk menjembatani keterpisahan antara pengajar dan peserta didik,
yang menjadi ciri atau karakteristik sistim PJJ. Media memberikan kemungkinan terjadinya
proses belajar mengajar dalam suatu sistim PTJJ. Dari sisi pengelolaan
institusi pendidikan jarak jauh, peran pengelola dalam pemanfaatan media adalah
menentukan media yang tepat guna dan tepat sasar bagi peserta didik. Walaupun
memang tidak dapat dipungkiri bahwa cepat lambatnya proses belajar mengajar
yang berlangsung dalam sistim PJJ selain bergantung pada kemampuan dan
karakteristik media yang digunakan juga bergantung pada kemampuan peserta
didik.
A.
Kesimpulan
Seiring dengan Perkembangan
di Indonesia yang semakin canggih sehingga banyak membuat Provinsi, Kota,
hingga sampai Desa yang masih ke tinggalan dengan Teknologi yang canggih.
Apalagi daerah terpencil yang belum tahu apa-apa, belum lagi dengan Pendidikan
yang ada di sana Pastinya beda sekali dengan daerah Kita. Dengan adanya sistem
Pendidikan Jarak Jauh serta Hakikat Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dapat membuat
Perkembangan diseluruh indonesia, dan dapat bersaing dengan negara-negara lain.
B.
Kritik dan Saran
Menurut kami, masih banyak
hal-hal yang perlu di perhatikan di dalam
Hakikat Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)
yang perlu diperbaiki dan di kembangkan lagi. Agar setiap Provinsi,
Kota, hingga sampai Desa semuanya bisa merasakan, dan menikmati Pembelajaran
Jarak Jauh (PJJ) ini.
Sehingga setiap Provinsi,
Kota, hingga sampai Desa bisa memahami bagaimana cara Hakikat Pembelajaran
Jarak Jauh (PJJ). Apalagi nantinya kalau di dalam dunia Teknologi Semakin
cangih. Kami takutkan desa-desa kecil, atau terpencil dapat ketinggaalan.
DAFTAR PUSTAKA
http://wuricahya.blogspot.com/2012/08/hakikat-dan-modus-pembelajaran-di-pjj.html


0 komentar:
Posting Komentar